Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dengan dasar trilogi ikatannya berupa religiusitas, intelektualitas, hingga humanitasnya kini telah memasuki usia lebih dari setengah abad (52 tahun). Dalam usia tersebut, IMM sebagai organisasi perkaderan yang merupakan underbow Muhammadiyah dalam menggapai tujuannya (Muhammadiyah) sekaligus memiliki peran selain mencetak kader-kader kompeten bagi umat, bangsa, dan persyarikatan, juga harus mampu menempatkan dirinya sebagai suatu gerakan sosial, social movement.
Rabu, 10 Agustus 2016
Kader yang Memilih Terasing
Tiga tahun sudah saat ini “usia” penulis dalam IMM, selama tiga tahun tersebut telah memberi pelajaran yang teramat berharga, pelajaran yang bukan hanya fokus pada nilai secara nominal tetapi secara kamanusiaan. Beragam pengetahuan yang penulis dapat dari teman–teman di IMM, banyak budaya yang kemudian tergabung menjadi satu dalam ikatan di IMM Bangkalan ini, meskipun kami minoritas tapi kami kaya akan keberagaman. “Minoritas”, kata itulah yang sering terdengar ditelinga kader dan menjadi bahan perbincangan hangat setiap kali diskusi. Mungkin kata itu memang tepat untuk menggambarkan keadaan IMM di Bangkalan, dibandingkan dengan organisasi lain (di Bangkalan), IMM “kalah” jauh, tertinggal sangat dan teramat jauh.
Eksistensi IMM dalam Paradigma Abad 21
Merupakan suatu hal yang lumrah ketika “gelar” mahasiswa memperoleh diskursus penting dalam roda kehidupan bangsa. Sebagai kaum intelektual yang masih memegang teguh ideologinya, mahasiswa tidak enggan melibatkan dirinya dalam pergulatan kepentingan antara rakyat dan penguasa. Kiprah mahasiswa nampak begitu “elegan” tatkala dapat melumpuhkan rezim Soeharto (orde baru) tahun 1998 lalu.
Kader dan Perkaderan Ikatan
Manusia dan Kader Ikatan
Hakikat penciptaan manusia sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Adh-Dhariyat ayat 56 yang berbunyi “dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”, sejatinya menerangkan bahwa apa-apa saja yang diciptakan Allah SWT di muka bumi adalah dalam rangka beribadah, mengabdi pada Allah SWT. Bahkan seisi dunia,
Menjadi Minoritas yang Berkualitas
Bangkalan, sebuah kabupaten kecil yang cukup kaya akan potensi. Terletak di ujung barat Pulau Madura (pulau di sebelah utara Kota Surabaya), Bangkalan belakangan sangat popular dengan tol jembatan Suramadu yang menghubungkannya dengan Kota Surabaya melalui jalur darat yang juga merupakan jembatan terpanjang di Indonesia (±5km).
Menerawang Kilas Perjalanan Ikatan
IMM Bangkalan kini telah memasuki usia ke-8tahunnya sejak berdiri (24 April lalu). Ikatan ini jika dianalogikan dengan seorang anakyang seusianya, pastinya anak itu telah mengenyam pendidikan awalnya di bangku sekolah dasar (SD). Masih tak berbalut dosa, gembira jika berangkat ke sekolah, dengan tas ransel yang “tertenteng” dipundaknya. Berkalung buku tabungan dengan beberapa lembar rupiah disakunya. Sekolah menjadi tempat kedua setelah rumahnya sendiri. Bertemu dengan banyak teman sebaya. Sungguh sangat menyenangkan bukan.
Para Bapak Bangsa ! (Renungan Kebangsaan)
Bangsa ini dibangun tanpa ada dendam !!
Begitu kata Buya Hamka setelah pemenjaraan dirinya oleh Bung Karno. “Saya tidak pernah mendendam pada orang yang telah menyakiti saya. Dendam itu dosa dan selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah hingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Qur’an 30 Juz (Al-Azhar). Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu,” katanya.
Senin, 02 Mei 2016
HARDIKNAS, Sejarah atau Kepentingan Politis
Tanggal 2 Mei di tiap tahun, Indonesia selalu memeringatinya sebagai "Hari Pendidikan Nasional" (Hardiknas). Momen Hardiknas diambil dari salah satu tokoh (pahlawan) nasional, Ki Hajar Dewantara yang populer dengan Taman Siswanya. Hardiknas muncul dalam pemerintahan Ir. Soekarno atas usulan M. Yamin. Ki Hajar sendiri adalah Menteri Pendidikan di kabinet pertama bentukan Soekarno.
Sabtu, 30 April 2016
IMM dan Hegemoni Neoliberalisme
Neoliberalisme yang sejatinya merupakan praktek pelaksanaan kapitalisme dengan bertumpu pada liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi dengan mekanisme pasar atau perdagangan bebasnya. Neoliberalisme memanglah suatu hal baru yang muncul ke permukaan dengan harapan dapat memperbaiki dan menggantikan sistem-sistem lama. Neoliberalisme yang merupakan produk aliran filsafat liberalisme dengan filosofi ekonomi-politiknya untuk mengurangi bahkan meniadakan atau menolak campur tangan negara (pemerintah) dan menjadi genealogi paham liberalisme.
Sabtu, 23 April 2016
Wanita dan Gerakannya (Refleksi Kartini)
Tanggal 21 April di setiap tahunnya, Indonesia selalu gegap gempita dalam nuansa Hari Kartini, satu-satunya hari besar yang dinamai dengan nama seseorang. Ya, Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu tokoh pahlawan nasional, yang tenar dengan perjuangannya dalam emansipasi wanita dan curhatan-curhatannya yang tertuang kemudian dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

